Friday, 24 April 2015

Luweng Jaran, Gua Di Pacitan Ini Terpanjang Se-Indonesia

Gua-gua di Pacitan memang fenomenal. Sebut saja Gua Gong, keindahannya diakui terindah se-Asia Tenggara. Sebut pula Gua Luweng Ombo, yang merupakan gua vertikal terdalam se-Pulau Jawa. Ada lagi Gua Tabuhan dengan musikalnya yang khas sehingga menempatkannya sebagai salah satu gua terunik di dunia. Nah, ada satu lagi yang tidak kalah fenomenalnya, yaitu Gua Luweng Jaran, gua terpanjang se- Indonesia.


Untuk mencapai teras pertama Gua Luweng Jaran ini harus turun dulu 12 meter. Dari teras ini masih harus turun 25 meter lagi untuk mencapai dasar gua. Setelah itu penelusuran bisa dilakukan secara horizontal
Luweng Jaran yang terletak di Desa Jlubang Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan, selain sebagai gua terpanjang se-Indonesia, juga tercatat dalam jajaran gua-gua terpanjang di dunia. Luweng Jaran awalnya ditemukan oleh penduduk setempat. Eksplorasi pertama dilakukan tahun 1984 oleh Anglo-Australian Speleological Expedition, yang didampingi penelusur gua dari Indonesia diantaranya dari Acintyacunyata Spleleological Club (ASC) yang bermarkas di Yogyakarta. Ekspedisi pertama ini berhasil membuat pemetaan gua sepanjang 11 Km.


Untuk masuk Gua Luweng Jaran harus menggunakan peralatan dan teknik khusus semacam SRT (single rope tehnique)
Ekspedisi dilanjutkan tahun 1986, kemudian ekspedisi lanjutan tahun 1992 berhasil menembus sampai Luweng Plenthe di wilayah Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan, yang mencapai panjang total 19 Km. World Caves Database menempatkan Luweng Jaran di peringkat 118 dalam daftar gua-gua terpanjang dunia, dengan panjang 25.000 m (25 Km) dan kedalamannya 60 meter.

Pintu masuk Gua Luweng Jaran terletak di aliran sungai dan merupakan swallow hole yaitu tempat menghilangnya sungai permukaan ke dalam gua. Hal inilah yang menyebabkan Luweng Jaran sangat berbahaya jika dimasuki saat musim penghujan. Pintu masuk Luweng Jaran berupa sumuran sedalam 12 meter. Dari turunan pertama ini melewati lorong kecil menuju teras pertama. Dari teras ini kemudian turun lagi sedalam 25 meter.

Pintu masuk Gua Luweng Jaran (panah merah) tepat di aliran sungai sehingga berbahaya jika dimasuki saat musim penghujan.
Setelah turunan kedua ini selanjutnya penelusuran dapat dilakukan secara horizontal. Di turunan kedua ini juga kita akan langsung dihadapkan sebuah chamber (ruang) yang sangat besar dengan beberapa lorong. Lorong-lorong yang ada di Luweng Jaran bercabang-cabang sehingga mirip labirin yang sangat berpotensi menyesatkan penelusur gua. Salah satu lorong Luweng Jaran bahkan ada yang tembus sampai Sungai Cokel yang bermuara di Pantai Watukarung.

Penelusur gua masuk menggunakan sistem SRT. (Sumber Foto: Erwyn Kusuma/ Dinamik FT UMS)

Menelusuri Gua Luweng Jaran mensyaratkan keahlian khusus seperti Single Rope Technique (SRT) tentunya harus didukung pula oleh peralatan standar penelusuran gua. Disarankan untuk membawa peta gua atau memasang marker supaya tidak tersesat dalam kegiatan penelusuran di gua ini.

Gua Luweng Jaran termasuk dalam 13 geosite dari Geopark Gunung Sewu area Pacitan. Jadi untuk menelusur gua ini harus izin dulu dari instansi terkait yaitu Badan Kesbangpol dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pacitan. Tentu juga perijinan harus sampai juga ke Pemerintah Desa Setempat (Desa Jlubang).

Salah satu chamber (ruang) di Gua Luweng Jaran. (Sumber Foto: Erwyn Kusuma/ Dinamik FT UMS)
Akses menuju Luweng Jaran bisa dicapai dari jalur bus Pacitan-Solo. Sampai di pertigaan Pringkuku ikuti jalan arah ke Desa Jlubang/Sugihwaras/Dersono. Jika bertemu pertigaan yang ada patung kudanya, ikuti jalan yang ada patung kudanya. Dari sini kita harus sering bertanya kepada penduduk setempat untuk menuju lokasi Gua Luweng Jaran karena mulai masuk jalan kampung yang berbelok-belok dan banyak simpangan.

Take nothing but pictures,
Leave nothing but footprints,
Kill nothing but time.

Mari berwisata di Pacitan saja. (@rif/info@pacitan)

Thursday, 23 April 2015

Pondok Pesantren Tertua Di Pacitan Ini Bangun Asrama Putri

Hari ini, Kamis (23/04/2015) Bupati Pacitan Indartato meletakkan batu pertama pembangunan gedung asrama putri Perguruan pondok Wates. Perguruan Islam yang berada di Desa Widoro Kecamatan Pacitan ini merupakan salah satu pondok tertua di Pacitan yang berdiri sejak tahun 1921.

Bupati Pacitan meletakkan batu pertama pembangunan asrama putri Pondok Wates  (Foto: Doc Humas Pemkab Pacitan)
Pondok Wates awalnya hanya berupa sebuah masjid kecil untuk ibadah masyarakat setempat. Dalam perkembanganya, masjid ini dijadikan pondok  tempat berguru ilmu agama dan berlanjut sampai sekarang. Dinamakan Pondok Wates karena lokasi Pondok itu berada di tapal batas (dalam bahasa jawanya: wates) Desa Widoro dan Desa Sambong. 

Bupati Pacitan, Indartato, dalam sambutanya mengatakan bahwa pembangunan manusia tidak hanya terbatas dalam kemampuan akademis saja. Namun, harus ditopang juga dengan pendidikan keagamaan. Perpaduan pendidikan formal dan pendidikan agama seperti Perguruan Islam Pondok Wates ini akan menciptakan generasi yang berkualitas serta berakhlaq mulia.

 "Saya  bangga dengan perjuangan pondok Wates. Semoga para santri yang belajar di pondok ini kelak menjadi penerus bangsa yang handal", Kata Indartato.  

Pada kesempatan itu pula Bupati Indartato menyerahkan bantuan 100 sak semen untuk pembangunan asrama putri tersebut. Pemkab juga akan berusaha maksimal membantu Ponpes Wates agar dapat berkembang lebih baik lagi. Pembangunan gedung asrama santri putri ini direncanakan selesai dalam dua bulan. Diharapkan memasuki bulan suci Ramadhan nanti sudah dapat ditempati. Jumlah santri yang tinggal di pondok wates saat ini sebanyak 55 orang. Terdiri santri tingkat Tsanawiyah sebanyak 27 orang dan yang tingkat aliyah sejumlah 28 santri. (@rief/F/Riz/)

Perbaiki Jaringan Listrik, Warga Bandar Mati Kesetrum



Fajar (20 th) warga Dusun Jatiroto Desa Tumpuk Kecamatan Bandar, kemarin (22/04/2015) diketemukan meninggal dunia dengan posisi tangan masih memegang tang. Diduga korban meninggal akibat tersengat arus listrik (kesetrum). Saat diketemukan pun ada kabel listrik yang masih menempel di tubuh korban.

Petugas sedang mengidentivikasi jenazah korban mati tersengat arus listrik (Foto: WA grup Black Spy)

Menurut penuturan warga setempat, sekitar pukul 14.00 korban keluar rumah hendak membetulkan jaringan listrik. Rumah korban sendiri aliran listriknya mengambil dari rumah tetangganya yang berjarak sekitar 2 km dari rumah korban. Warga lainnya yang juga hendak mengecek listrik rumahnya yang padam, menyusul korban dan menemukan korban sudah meninggal dengan posisi tangan masih memegang tang dan kabel yang menempel ditubuhnya. 

Setelah diketemukan, selanjutnya jenazah korban dibawa kerumah duka untuk diperlakukan sebagaimana mestinya. (@rif/David Eka/Black Spy).

Wednesday, 22 April 2015

Rute-Rute Menuju Pantai Klayar Pacitan



Tidak perlu diragukan lagi, Pantai Klayar merupakan salah satu Pantai di Pacitan yang paling menarik minat pengunjung. Pada saat liburan, Pantai Klayar selalu ramai dipadati wisatawan baik lokal maupun luar Pacitan. Bahkan terkadang sering terjadi antrian panjang untuk sekedar masuk lokasi pantai.  

Pantai Klayar Pacitan
Daya tarik utama Pantai Klayar adalah pantainya yang berpasir putih dengan batu-batuan karang yang berpadu dengan batuan karts. Selain itu di Pantai Klayar juga terdapat Seruling Samudera (ocean flute) yang membuat ciri khas tersendiri. Seruling Samudera terbentuk dari ombak yang menerobos dari bawah celah-celah karang. Menyembur ke atas semacam air mancur diiringi suara mirip bunyi seruling. 

(Tiket masuk Pantai Klayar bisa di cek disini )

Zona seruling samudera Pantai Klayar
Pantai Klayar terletak di Desa Sendang Kecamatan Donorojo. Untuk menuju Pantai Klayar jalur yang biasa digunakan pengunjung adalah melalui jalur Gua Gong. Tetapi sebenarnya ada beberapa jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Pantai Klayar

1.  Jalur Punung-GuaGong-Klayar

Jalur ini merupakan jalur utama yang biasanya digunakan pengunjung untuk menuju Pantai Klayar. Kondisi jalannya sudah diaspal mulus, dan sudah diperlebar hingga Desa Kalak. Jika dari arah Trenggalek dan Ponorogo, lebih dulu menuju Kota Pacitan. Kemudian dari Kota Pacitan ambil jalur bus jurusan Pacitan-Solo. Bisa juga melalui jalan pintas via jalur Sedeng, tetapi jalur ini khusus untuk kendaraan kecil. Bus besar tidak boleh lewat jalur ini karena jalannya menanjak curam dan banyak tikungan tajam. Lewat jalan pintas ini bisa menghemat jarak sekitar 12 Km. Jalannya pun sudah diaspal mulus dan lumayan lebar. 

Baik lewat jalur bus maupun jalan pintas, tujuannya adalah punung. Sampai Pasar Punung lurus  terus, melewati POM Bensin dan setelah masjid besar Punung ada pertigaan belok kiri. Jika dari arah Solo ataupun Yogyakarta, ikuti jalan utama menuju Kota Pacitan. Setelah melewati Puskesmas Punung ada pertigaan, belok kanan. 

Dari pertigaan Punung ini ikuti jalan utama yang sudah ada penunjuk arah menuju Gua Gong. Sekitar 7 Km kemudian akan sampailah di area wisata Gua Gong. Ada pertigaan, yang kiri menuju Gua Gong, ambil yang lurus menuju Pantai Klayar. Ikuti terus jalan utama, sampai bertemu perempatan Kantor Desa Kalak / Puskesmas Kalak. Di perempatan ini belok kiri, dan setelah melewati Pasar Kalak ketemu pertigaan. Ambil jalan yang kiri, (kalau yang kanan menuju Pantai Buyutan, Pantai Banyu Tibo, Pantai Kijingan dan Pantai Nampu). Ikuti terus jalan tersebut, nanti akan melewati gapura masuk Desa Sendang. Sekitar 300 meter dari gapura ini ada pertigaan, ambil jalan yang ke kanan. (Kalau yang lurus menuju Pantai Ngiroboyo, Sungai Maron, Pantai Watukarung dan Pantai Srau). Dari pertigaan ini terus ikuti jalan utama (penunjuk arah) nanti akan sampai di kawasan wisata Pantai Klayar.

Landmark khas Pantai Klayar berupa batu karang berpadu dengan batuan karts
2. Jalur Pringkuku – Maron – Klayar
 
Jalur ini kebanyakan dipakai oleh pengendara motor. Tetapi terkadang mobil pribadi ada juga yang memakai jalur ini. Jalan di jalur ini ada beberapa titik yang lumayan ekstrem baik tanjakan maupun turunannya. Jika dari arah Kota Pacitan, bisa mengikuti jalur bis Pacitan-Solo, bisa juga melalui jalan pintas via Sedeng. Jika lewat jalur bus, sampai pertigaan Pringkuku belok kiri, jika via Sedeng sampai pertigaan Bulu (pertigaan bertemunya jalur sedeng dengan jalur bus) belok kiri, sekitar setengah km ketemu pertigaan Pringkuku belok kanan. Demikian juga jika dari arah Solo maupun Yogyakarta ikuti jalur utama menuju Kota Pacitan. Sampai pertigaan Pringkuku belok kanan.

Dari pertigaan Pringkuku ikuti terus jalan utama. Jika bertemu pertigaan yang ada patung kuda, ambil yang lurus menurun. Yang kiri ada patung kuda arah menuju Gua Luweng Jaran. Ikuti terus jalan utama arah menuju Desa Dersono. Setelah masuk Desa Dersono jika ketemu pertigaan ambil jalan yang kanan (Kalau yang kiri agak nanjak arah menuju Pantai Watukarung). Dari pertigaan ini lurus terus ikuti jalan, nanti akan ketemu turunan curam. Akhir turunan melewati jembatan di atas sungai. 

Nah itu adalah Maron, dari sini kita bisa arung sungai Maron menuju Pantai Ngiroboyo. Setelah ini jalan menyisir sungai maron. Setelah melewati kuburan jalan mulai menanjak curam dan berliku. Sampai akhir tanjakan jalan kemudian ada turunan sedikit, nah disitu ada pertigaan. Ambil yang lurus (kalau kekiri lewat jalan makadam arah menuju PantaiNgiroboyo). Setelah pertigaan ini sekitar setengah kilometer ketemu pertigaan lagi, nah kali ini belok kiri menuju Pantai Klayar, kalau lurus menuju kalak (jalur pulang via Gua Gong – Punung).

Pengunjung sedang menikmati keindahan Pantai Klayar
3. Jalur Dadapan – Watukarung – Klayar

Jalur ini bisa digunakan jika sebelum ke Pantai Klayar berencana mampir dulu di Pantai Watukarung ataupun Pantai Srau. Dari arah Pacitan Kota ikuti jalur bus jurusan Pacitan-Solo. Sekitar 10 km ada pertigaan Dadapan, belok kiri dan terus ikuti jalan utama. Nanti di wilayah Desa Candi akan bertemu pertigaan dengan penunjuk arah yang kiri menuju Pantai Srau, dan yang ke kanan menuju Pantai Watukarung. Jika tidak berencana ke Pantai Srau maka ikuti jalan menurun arah Pantai Watukarung. Ikuti terus jalan aspal utama maka akan sampai kawasan Pantai Watukarung

Dari Pantai Watukarung ikuti terus jalan aspal. Awalnya jalannya masih baik, tetapi kemudian berganti dengan jalan aspal yang sudah rusak. Kendaraan roda 2 dan roda 4 masih bisa melewati jalur ini tetapi harus ekstra hati-hati, karena selain rusak kondisi jalan juga sempit.  Nanti jika ketemu pertigaan ambil yang lurus. Tak jauh dari pertigaan ini akan ketemu pertigaan lagi, kali ini ambil yang kiri (yang kanan ke arah pringkuku). Nah pertigaan ini sudah ketemu dengan jalur yang dari arah Pringkuku. Dari pertigaan ini selanjutnya ke Pantai Klayar seperti yang sudah dijelaskan di Jalur Pringkuku-Maron-Klayar.

Pantai Klayar masuk daftar 10 pantai terbaik se-Indonesia
Nah itu berbagai jalur yang bisa ditempuh menuju Pantai Klayar. Jalur utama adalah yang melalui Gua Gong, sedang dua jalur lainnya merupakan jalur alternatif. Jika melewati jalur alternatif usahakan kendaraan dalam kondisi yang prima, mengingat beratnya medan. (@arif)

Jalur Pacitan-Ponorogo Longsor, Arus Lalu Lintas Lewat Jalan Darurat


Hujan deras yang mengguyur kawasan Pacitan kemarin (21/04/2015) mengakibatkan longsornya tebing di sisi jalan Pacitan-Ponorogo tepatnya di wilayah Desa Gemaharjo. Longsoran menutup seluruh badan jalan dan menimpa dua mobil yang kebetulan sedang melintas disitu. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Longsor yang menimbun jalur Pacitan-Ponorogo (Foto: Eko/FB grup info@pacitan)
Dari berbagai informnasi yang berhasil dihimpun, kejadian longsor diperkirakan sekitar pukul 22.00 selasa malam (21/04/2015). Besarnya material longsoran yang menimbun jalan sempat membuat jalur Pacitan-Ponorogo ini putus total. Tetapi berkat kesigapan petugas, pagi ini (22/04/2015) jalur Pacitan-Ponorogo sudah bisa diakses kembali walau harus dialihkan melalui jalan darurat didekat lokasi longsoran. 

Kondisi longsor jalur Ponorogo-Pacitan (Foto: Tusuk Sate Pacitan / FB grup info@pacitan)
Sedangkan dua mobil yang tertimpa longsor yaitu satu mobil Toyota Avanza yang bergerak dari arah Ponorogo menuju Pacitan, dan mobil Daihatsu Grandmax pengangkut ikan dari arah Pacitan menuju Ponorogo, telah berhasil dievakuasi.

Daihatsu grandmax yang sempat terkena longsoran (Foto: WA grup info pacitan)


Petugas dengan alat berat mulai tengah malam kemarin terus bekerja membersihkan timbunan longsoran di badan jalan. Tetapi banyaknya material longsoran, diperkirakan butuh waktu sekitar dua hari untuk membersihkan semua.

Alat Berat dikerahkan untuk membersihkan longsoran (Foto: WA grup info pacitan)
Kesigapan petugas dan bantuan dari instansi terkait beserta masyarakat setempat, membuat akses jalur Pacitan Ponorogo bisa dibuka kembali kendati harus melalui jalan darurat.


Bupati Pacitan, Indartato beserta jajarannya meninjau langsung longsor di jalur Pacitan-Ponorogo (Foto: WA grup info pacitan)
Sampai berita ini diturunkan, jalur Pacitan-Ponorogo sudah bisa diakses kembali terutama oleh kendaraan baik roda 2 roda 4. Tetapi diharapkan untuk tetap berhati-hati.(@rif)

Tuesday, 21 April 2015

Batu Akik, Magnet Baru Wisata Pacitan

Demam Batu Akik yang booming akhir-akhir ini, berdampak juga terhadap wisata di Pacitan. Di berbagai lokasi wisata Pacitan, hampir selalu bisa ditemukan penjual batu mulia ini. Sedangkan batu akik yang banyak dijual kebanyakan merupakan batu akik asli Pacitan. Batu akik Pacitan memang sangat terkenal dikalangan pecinta batu mulia. Jenis kalsedon (chalsedony) merupakan yang paling dicari, terutama red baron. Hal inilah yang membuat orang dari luar Pacitan datang ke Pacitan untuk berburu batu akik khas Pacitan.

Berburu batu akik, tren baru wisata di Pacitan
Bahkan di salah satu sentra batu akik Pacitan yang juga merupakan kawasan wisata yaitu Gua Tabuhan, terkadang pengunjung datang justru hanya ingin sekedar mencari/membeli batu akik. Lapak-lapak penjual batu akik yang banyak terdapat di sekitar Gua Tabuhan pun menjadi jujugan pengunjung. Besarnya minat pengunjung terhadap batu akik membuat penjual menggelar dagangannya tidak hanya di hari-hari libur, tetapi buka setiap hari bahkan bukanya sampai sore.


Salah satu lapak penjual batu akik di kawasan wisata Gua Tabuhan
Perhiasan batu akik yang dijual ada yang berwujud cincin batu, liontin dan berbagai bentuk perhiasan lain. Yang perlu diperhatikan jika berbelanja batu akik adalah mengetahui keaslian dari batu itu sendiri. Penjual biasanya menjual berbagai jenis batu akik, baik yang asli (natural) maupun batu yang sudah diolah (obsidian). Batu yang natural biasanya harganya lebih mahal jika dibanding yang olahan. Tetapi jika dilihat sepintas, batu olahan akan terlihat lebih menarik dan warnanya cenderung mencolok. Tapi jangan khawatir, pedagang biasanya menjelaskan mana batu yang asli dan yang mana batu olahan.

Lapak-lapak batu akik mulai berbenah memperbaiki penampilannya agar menarik minat pengunjung
Untuk batu cincin, ada yang sudah dipasang dengan ringnya (emban), ada juga yang belum dipasang di ring. Di lokasi juga banyak yang jual berbagai macam ring, sehingga pengunjung dapat memilih yang sesuai dengan ukuran jarinya. Sedangkan untuk masalah harga, tinggal pilih mulai yang seharga 50 ribuan sampai yang berharga jutaan rupiah, tentunya sesuai kualitas batunya. 

Nah, belum lengkap rasanya jika ke Pacitan tanpa beli batu akik khas Pacitan. Ayo berwisata di Pacitan saja. (@rif)